Tampilkan postingan dengan label trah martowirono. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label trah martowirono. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Maret 2012

Juara All England 2012, Broto Happy dan Trah Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Email : trahkastanto (at) hotmail.com


Sembilan tahun. Paceklik gelar bergengsi atlet bulutangkis Indonesia di arena All England, terpuasi sudah. Memang harus menunggu selama sembilan tahun dan untuk gelar ganda campuran harus menunggu lebih lama, 33 tahun,gelar juara itu kini bisa direngkuh kembali.

Melalui perjuangan dari atlet bulutangkis ganda campuran Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir (foto) setelah menumbangkan pasangan Denmark Thomas Laybourn dan Kamilla Rytter Juhl 21-17, 21-19 dan mengangkat trofi di National Indoor Arena, Birmingham.

Prestasi mereka itu mengulangi kejayaan pasangan Christian Hadinata dan Imelda Wigoena yang menekuk pasangan Inggris Mike Tredgett dan Nora "Si Goyang Pinggul" Perry di final tahun 1979.

Juara lagi di Swiss. Kedigdayaan Liliyana Natsir dan Tontowi Ahmad berlanjut. Hari Minggu malam (18/3/2012) mereka mengalahkan pasangan dari Thailand Sudket Prapakamol dan Saralee Thoungthongkam 21-16, 21-14, hanya selama 23 menit di St. Jakobshalle, Basel, untuk menjadi juara.

Hari Selasa (20/3/2012) malam, keduanya tiba kembali ke tanah air. Situs harian berbahasa Inggris, The Jakarta Post (21/3/2012) memajang foto tersebut. Nampak dalam foto sosok warga trah kita, Broto Happy Wondomisnowo (kiri, berbaju hitam).

Penyambutan Juara Ganda Campuran All England 2012, Penyambutan Juara Ganda Campuran All England 2012, Broto Happy Wondomisnowo (kiri) ikut menjadi "bodyguard" sekaligus pressofficer saat menyambut kedatangan Liliyana Natsir (merah) dan Tontowi Ahmad di Bandara Soekarno-Hatta,Selasa malam (20/3/2012).">

Ada urusan apa sehingga dirinya ikut terjepret kamera ?

Ayah dari Gladys Erika Septeria, wartawan tabloid BOLA dan komentator bulutangkis di televisi ini, dalam sms-nya membuka kartu :

"Ya semalam menjadi bodyguard-nya Tontowi Ahmad dan Butet (panggilan akrab Liliyana Natsir) dan sebagai media officer dalam acara tersebut."

Baiklah.
Semoga prestasi keduanya, dan atlet bulutangkis Indonesia lainnya, akan berjaya di arena akbar Olimpiade London 2012 mendatang.

Wonogiri, 21/3/2012

Kamis, 10 November 2011

Broto Happy W., Trah Kastanto dan Bulutangkis Indonesia

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com



Sembilan Juara Dunia. Peringatan Hari Pahlawan 10 November 2011 kiranya memiliki makna mendalam bagi seluruh warga trah kita, Trah Kastanto dan Trah Martowirono. Karena salah satu warga kita berusaha ikut merayakan hari itu dengan mempersembahkan karyanya bagi bangsa dan negara Indonesia.

Selamat untuk Broto Happy Wondomisnowo !

Wartawan Tabloid BOLA, suami dari Ayu Broto Happy dan ayah dari Ega dan Adis, malam ini (10/11/2011) akan ikut aktif menjadi pelaku sejarah perkembangan dunia olahraga Indonesia. Khususnya dunia perbulutangkisan Indonesia.

Buku karyanya akan diluncurka berbarengan dengan perayaan HUT Ke-60 PB Tangkas Alfamart di Ballroom Hotel Mulia, Kamis, 10 November 2011, malam. Perkumpulan Bulutangkis (PB) Tangkas Alfamart yang didirikan oleh Keluarga Besar Soehandinata yang pencinta berat olahraga bulutangkis, telah tercatat menelurkan atlet-atlet bulutangkis Indonesia dengan prestasi dunia.

Antara lain, tercatat 9 Juara Dunia, meliputi Ade Chandra (1980), Verawaty Fajrin (1980), Icuk Sugiarto (1983), Joko Suprianto (1993), Ricky Soebagdja/Rexy Mainaky (1995), Hendrawan (2001), Nova Widianto/Lilyana Natsir (2005 dan 2007).

Untuk peraihan medali Olimpiade : Hermawan Susanto (Barcelona, 1992, perunggu), Ricky Soebagdja/Rexy Mainaky (Atlanta, 1996, emas), Hendrawan (Sydney,2000, perak) dan Nova Widianto/Lilyana Natsir (Beijing, 2008, perak).

Pena anak Wonogiri. Semua prestasi dan perjuangan mereka itu dan tokoh terkait lainnya demi mengharumkan nama Indonesia akan diabadikan oleh tulisan Broto Happy Wondomisnowo, yang anak Kajen Wonogiri dan anak ke-enam keluarga Kastanto Hendrowiharso-Sukarni, dalam buku berjudul Baktiku Bagi Indonesia : 60 Tahun Tiada Henti Mencetak Juara, 9 Juara Dunia dan 4 Peraih Medali Olimpiade . Diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama, 2011. 498 halaman.

“Pengerjaan buku ini mungkin bisa masuk Rekor MURI,” kata Broto Happy W. Karena dengan hampir 500 halaman, dikerjakan dalam tempo pendek, sekitar 3 bulan mulai April sampai deadline naskah tanggal 10 Juli. Apalagi penulisan buku ini dikerjakan disela-sela tugas jurnalistik di Tabloid BOLA.

Buku ini merupakan buku bulutangkis ketiga yang ia tulis. Sebelumnya menulis biografi pebulutangkis kontroversial Taufik Hidayat, Magnet di Bulutangkis (2003) dan biografi Hariyanto Arbi, Smash 100 Watt. (2006).

”Buku ini merupakan dedikasi saya untuk dunia bulutangkis Indonesia. Karena sering bergaul dengan para pemain bulutangkis, saya pun termotivasi untuk berbuat sesuatu untuk dunia bulutangkis Indonesia.

Kalau para atlet berjuang demi Merah Putih dengan ayunan raket di tengah lapangan, sedangkan saya lewat kemampuan yang saya miliki, yaitu menulis buku,” tegas Broto Happy W.

Lewat buku pula ia bertekad mengajak dan memotivasi semua warga keluarga besar Trah Martowirono untuk berlomba-lomba dalam mengukir prestasi sesuai dengan bidang dan kemampuannya masing-masing. ”Mari terus berkarya, kreatif, dan tiada henti berinovasi untuk ikut mengharumkan keluarga Trah Martowirono,” pungkasnya.

Acara peluncuran dan hari ulang tahun PB Tangkas Alfamart tersebut konon akan direkam dan disiarkan ulang di MetroTV. Ayo kita siap-siap untuk menontonnya, sekaligus menjadikannya sebagai inspirasi bagi semua warga Trah Martowirono tercinta kita.

Begitu, bukan ?
Salam sukses untuk Anda semua.


Kramat Jaya Baru, Jakarta, 10 November 2011

Kamis, 28 Juli 2011

Bapak dan Ibu Kastanto Hendrowiharso : Kenangan 2011

Oleh : Bambang Haryanto
Email : trahkastanto (at) hotmail.com

Bulan suci itu menjelang datang lagi.
Selamat datang, Ya Ramadhan.

Sebagai tradisi yang baik, sebulan sebelum masa kewajiban untuk berpuasa sebulan penuh bagi umat muslim itu hadir, bangsa Indonesia, khususnya suku Jawa, mengenal ritus nyadranan..

Yaitu aktivitas mengunjungi makam leluhur, guna mendoakan para pendahulu yang telah wafat itu agar memperoleh hidayah ketentraman dan kesejahteraan abadi di sisiNya.

Keluarga besar Taler-4 Trah Martowirono, yaitu anak cucu keluarga Kastanto Hendrowiharso, selain melakukan kegiatan nyadran juga mengadakan acara tahlilan, yaitu helat pembacaan doa untuk arwah ayah dan ibu kami yang telah menghadap Sang Khalik.

Bapak Kastanto Hendrowiharso, yang dilahirkan di Desa Jambe, Mlopoharjo, Wuryantoro tahun 1928, telah meninggal dunia di Wonogiri, 1982.

Ibu S. Kastanto Hendrowiharso, lahir di Kedunggudel, Kenep, Sukoharjo pada tahun 1933, wafat tahun 1993 di Wonogiri.

Berdoa bersama anak panti. Walau sebagian tidak sempat hadir, dukungan putra-putri yang berdomisili di luar Wonogiri, berperan signifikan. Keluarga Mayor Haristanto (Solo, ia hadir bersama Ibu Nani), Broto Happywondomisnowo di Bogor, Bonny Hastutiyuniasih di Tasikmalaya, Bari Hendriatmojo di Jember sampai Basnendar HPS (Solo), sebagai contohnya.

Sebagai event organizer dilakoni oleh Bapak Nano Maryono, Ibu Nuning Bhakti Hendroyulianingsih (Ngadirojo) yang dibantu Ibu Bastion ‘Iwin’ Hersaptowiningsih dan Betty Hermisnawaningsih.

Ada kekhususan acara tahun ini. Kami mengundang 25 anak panti asuhan “Esti Tomo” dari Mojoroto, Wonogiri. Mereka hadir bersama pengasuhnya, Bapak Soemarno. Ditambah kehadiran 25-an warga tonggo teparo dari Kajen, Giripurwo, Wonogiri, membuat acara Yassinan dan tahlilan malam itu terasa semakin khidmat.

Acara yang khusuk itu hingga paripurna dipandu oleh Bapak Abdurrachman, anggota takmir Masjid Agung At-Takwa Kabupaten Wonogiri.

Subhaanallaahi wa bihamdhi,
subhaanallaahil ‘azhiimi

Maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya.
Maha Suci Allah yang Maha Agung.

Ya Allah, ampunilah dan rahmatilah mereka (kedua orang tua kami), selamatkan, dan maafkanlah kesalahan mereka.

Segala puji bagi Allah,
Tuhan Semesta Alam.


Wonogiri, 28/7/2011

Rabu, 30 Maret 2011

78 Tahun Sukarni Kastanto Hendrowiharso

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com


Come away with me in the night
Come away with me
And I will write you a song

Potongan lirik dari lagu indah “Come away with me” dari Norah Jones itu memang tak terdengar saat ini. Juga tidak terlantun untaian kata-kata lanjutannya :

“Saya ingin berjalan bersamamu/Di hari yang berawan/Di padang dengan rerumputan setinggi lutut/Bukankah kau akan ikut ?”

Norah Jones, penyanyi yang pernah menyabet sembilan Grammy Award itu dilahirkan di Brooklyn, New York, 30 Maret 1979. Tanggal yang sama adalah juga tanggal kelahiran aktor dan sutradara AS, Warren Beatty (1937), gitaris Inggris Eric “Tears in Heaven” Clapton (1945), penyanyi Kanada Celine “My Heart Will Go On” Dion (1968), pemain tennis Australia, Samantha Stosur (1984), sampai aktor dan sutradara film Perancis, Jean-Claude Brialy, yang lahir di Aljazair (1933).

Pada tanggal dan tahun yang sama, 30 Maret 1933, di belahan bumi lainnya telah lahir di Kedunggudel, Kenep, Sukoharjo, anak keempat dari pasangan Martowirono. Diberi nama : Sukarni (foto). Ia mengenyam pendidikan Sekolah Rakyat setempat sampai klas 2.

Pada tanggal 15 Oktober 1950 menikah dengan prajurit TNI asal Jambe, Wuryantoro, Wonogiri, bernama Kastanto Hendrowiharso (21 Januari 1928- 9 Desember 1982). Pesta perkawinan dilaksanakan tanggal 9 November 1952 di Kedunggudel. Pasangan ini dikaruniai putra-putri sebelas orang (yang terakhir meninggal saat dilahirkan). Ibu wafat pada tanggal 20 November 1993 di Wonogiri.

Hari ini, 30 Maret 2011, adalah tepat 78 tahun hari kelahirannya. Semoga beliau kini tenteram di sisiNya. Meminjam lirik lagunya Celine Dion yang menjadi lagu tema film Titanic (1997), jejak dan keteladanan beliau tidak terhapuskan. Cintanya selalu menjadi panduan dan obor hidup untuk putra-putri dan para cucunya.

“Jauh di seberang jarak yang memisahkan/ruang di antara kita/kau datang menunjukkan cara kau meneruskan….Dekat, jauh, di mana saja kau berada/aku percaya hati itu kan terus menyala.”

Far across the distance
And spaces between us
You have come to show you go on

Near, far, wherever you are
I believe that the heart does go on


Wonogiri, 30-31/3/20

Rabu, 08 Desember 2010

Mavericks, Mother and Soldier

Catatan kenangan 28 tahun wafatnya Bapak Kastanto Hendrowiharso

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com


Hari Sabtu dan Minggu adalah hari humor keluarga.

Karena hari itu ayah saya, almarhum Kastanto Hendrowiharso (1928-1982), datang dari Yogya. Sebagai seorang prajurit TNI-AD, ia berdinas di Yogyakarta. Sementara keluarganya tetap tinggal di Wonogiri.

Saat itu, tahun 1966, saya duduk di bangku klas 6 SD Wonogiri III. Ketika lulus saya memperoleh piagam setengah kuarto dengan ketikan yang border-nya berupa tanda uang Amerika Serikat : $$$$$$$. Piagam itu sebagai tanda “Pemegang kedjuaraan ketjakapan didalam kelasnja.”

Yang menandatangani adalah Pengurus Persatuan Orangtua Murid (POM), terdiri pimpinan sekolah Siswomihardjo (ayah dari pelukis Godod Sutejo), ketua Hadisoebroto (ayah dari teman saya, Sugeng Sudewo) dan secretaris (memang tertulis pakai huruf “c”), Samto, bapak guru kelas 5 saat itu.

Saya tidak ingat lagi pada momen apa piagam itu saya terima. Hanya berkat ketelatenan ayah saya yang menyimpan dan melaminasinya dengan, plastik walau toh sebagian pinggirnya sudah gripis dimakan rayap, kenangan tentang masa 44 tahun yang lalu itu dapat tertayang. Memang hanya sepotong-sepotong.

Yang pasti, kehadiran ayah setiap Sabtu dan Minggu merupakan hari kegembiraan bagi kami bertuju, anak-anaknya saat itu. Kini anaknya ada sepuluh. Antara lain, Mayor Haristanto, Bhakti Hendroyulianingsih, Broto Happy Wondomisnowo sampai Basnendar Heriprilosadoso yang kreator logo Galeri Nasional di Gambir, Jakarta. Dalam foto di bawah ini, saya paling kiri, diambil tahun 1960. Ke kanan : Budi, Bari dan Mayor bersama Ibu. Dari istri kedua, Ibu Suminten, keluarga kami kemudian dikaruniai tiga putri : Bonar Heni Sumponorini, Dwi dan Yayuk.




Karena absennya figur bapak antara hari Senin sampai Sabtu, yang orangnya disiplin dan cermat, mungkin justru yang agak memberi “hawa bebas” bagi anak-anaknya. Bebas guna menyuburkan perilaku sikap-sikap kreatif bagi anak-anaknya pula. Bermain di kali Bengawan Solo (“kalau ketahuan, dihukum a la waterboarding-nya Dick Cheney, yaitu diguyuri air sampai kedinginan dan rada gelagepan”), berbagi humor, berkartun, melukis, dan menulis.

Pendek kata, memperoleh gemblengan tak sengaja untuk menjadi maverick :-). Boleh jadi karena hal itu pula, sehingga tak ada satu pun anaknya ketika dewasa tertarik mengikuti jejaknya sebagai tentara. Karena tentara merupakan sosok yang sepertinya “tidak kreatif” di mata kami. Terlalu banyak peraturan dan kekangan :-).

Cerita-cerita baru. Kegembiraan karena kedatangan ayah itu berkesan terutama bagi saya, sebagai anak pertama. Karena kami akan memperoleh cerita dan cerita baru yang dibawa beliau dari kota. Juga terkadang dongengan mengantar tidur.

Misalnya dongeng tentang Joko Kusnun.

Pemuda desa itu berkerjanya berjualan layang-layang. Suatu hari, naas, dirinya tertimpa hujan deras. Sehingga barang dagangannya rusak. Karena takut dimarahi ayahnya, ia tidak pulang ke rumah. Ia menggelandang di kota, tidurnya di pohon.

Kalau Anda melihat dua pohon beringin di depan gerbang kebon rojo, Taman Sriwedari Solo, saya selalu membayangkan Joko Kusnun memang tidur di sana. Di cabang pohon tersebut. Ia ditemukan sang raja ketika hendak bercengkerma di taman raja itu. Ia lalu mengabdi, sebagai punggawa istana.

Cerita lucu dari ayah saya meledak di mata anak-anaknya bila ia melakukan act out, yaitu menirukan beberapa aksi temannya sesama tentara. Misalnya ada tentara yang disebut nyentrik, yang seperti ayah saya setiap Sabtu akan pulang kampung. Ketika disapa, si teman tersebut akan selalu menjawab : “Biasa dik, minggon !”

Suatu saat lain, sang tentara teman ayah saya yang nyentrik itu berseru : “Tai asu ! Tai asu !” Rupanya ia menemukan kotoran anjing di halaman asrama tentara.

Kami langsung terserap perhatiannya.
Misalnya, apa yang akan terjadi dengan kotoran anjing tersebut ?

Dalam dunia mengkreasi lawakan, pancingan itu lajim disebut sebagai sebuah set up, jebakan. Disusul kemudian titik ledak yang tak terduga-duga, berpotensi mengguncang, memberikan kejutan, juga tawa, yang biasa diberi label sebagai punchline. Pak tentara nyentrik itu ternyata lalu bilang :

Nggo rabuk !”
Untuk pupuk.
Guna mempersubur tanaman.

Begitulah, ucapan “Biasa dik, minggon !” sampai kisah heboh kotoran anjing itu tetap sering muncul dalam cerita-cerita keluarga kami. Sampai kini.

Mendongeng di kelas. Momen lomba melucu antaranak juga terjadi ketika kami bermain remi. Ayah melawan anak-anaknya. Karena merasa memiliki status setara, maka ketika sang ayah mengalami kekalahan dalam permainan, dan harus menjadi pengocok kartu, ejekan pun berhamburan.

Kami sering menyebut-nyebut merek minyak obat gosok, yang berkhasiat menyembuhkan rasa capek bapak ketika harus dihukum sebagai pengocok kartu.

Reuni lomba melucu antaranak itu, bahkan sejak tahun 1987 memperoleh arena yang lebih luas. Melibatkan keluarga besar keturunan kakek-nenek dari garis Sukarni (1933-1993), ibu saya, yang bernama Trah Martowirono. Reuni tahun 2009 berlangsung di Benteng Vrederburg, Yogyakarta.

Mungkin karena gojlokan memperoleh cerita dan cerita itu, membuat salah satu pelajaran favorit saya di sekolah dasar adalah bercerita di depan kelas. Seingat saya, kalau teman-teman lain seperti almarhum Slamet Hartanto dan almarhum Suparno sering mengulang cerita mengenai kucing kurus melawan kucing gemuk, seingat saya saya pernah bercerita tentang Pemberontakan di Kapal Tujuh, Tenggelamnya Kapal RI RI Matjan Tutul, sampai Hikayat Indera Bangsawan.

Cerita dan dongeng rupanya menyemaikan kegemaran saya terhadap bacaan Buku favorit saya saat itu adalah serial novel Nogososro Sabukinten, karya S.H. Mintardjo. Seingat saya, pada jilid pertama, pembukanya berupa kalimat bernuansa menakutkan : “Awan hitam bergulung-gulung di langit Mataram,” yang kemudian sering saya contek dan saya modifikasi ketika ikut lomba mengarang.

Mungkin Pak Mintardjo terilhami oleh kalimat yang sering disebut-sebut sebagai contoh baris pembuka dalam pelajaran mengarang, yang berbunyi : “It was a dark and stormy night” yang terkenal itu.

Setiap awal bulan, ketika novel tentang Maheso Djenar itu terbit, saya menulis dalam sebuah kertas kecil. Misalnya, “Nogososro Sabukinten, jilid 10.” Lalu kertas itu saya masukkan diam-diam di kantung baju seragam ayah saya. Di hari Minggu sore. Sebelum ia kembali bertugas ke Yogya.

Mungkin dari hanya terbiasa menulis judul–judul buku di kertas kecil itu, saya kini menjadi memiliki kegemaran untuk menulis. Hingga mampu menghadirkan buku humor yang ketiga, dengan judul Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (Etera Imania, 2010) yang diluncurkan awal Desember 2010 ini.

Pasalnya, kertas kecil di saku baju tentara ayah saya itu, memang menghadirkan mukjijat. Karena pada hari Sabtu sore minggu depan saya telah memiliki buku baru dan bacaan baru, yang sangat saya idamkan.

Terima kasih, Pak Kastanto.
Juga Ibu Kastanto.

Ayah yang lahir tanggal 21 Januari 1928 di Wuryantoro, meninggal dunia mencapai usia 54 tahun tanggal 9 Desember 1982, hari Kamis Wage, di RSUD Wonogiri. Tanggal yang sama adalah tanggal kelahiran Tamilla Abassova, atlet balap sepeda Rusia dan Nathalie De Vos, atlet Belgia. Juga hari wafatnya Leon Jaworski (kelahiran 1905), hakim yang menangani kasus skandal Watergate di Amerika Serikat.

Setiba dari Jakarta, pagi itu saya diantar adik ipar saya Nano, ke rumah sakit. Beliau sudah dalam keadaan koma, karena sakit sirosis hati dalam tingkat lanjut. Saya mencatat suasana hati, juga membuat skets di buku harian saya, apa yang saya cerna dan rasakan saat itu.

Oleh ibu saya diminta mengucapkan sesuatu ke telinga beliau. Saya sebutkan nama saya, menyapa beliau. Sejurus kemudian, nampak genangan air mata. Rupanya beliau masih mendengar, moga-moga juga mendengar doa saya.

Semoga beliau kini tentram dan selalu sejahtera di sisiNya.



Wonogiri, 9 Desember 2010

Sabtu, 20 November 2010

Ibu Sukarni Kastanto : 17 Tahun Dalam Kenangan

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com

"We have a beautiful
mother
Her green lap
immense
Her brown embrace
eternal
Her blue body
everything
we know."


- 'We Have
a Beautiful Mother' (1991)
Alice Walker,
penyair Amerika Serikat.


Hari ini, 20 November 2010. Tanggal yang sama 17 tahun lalu saya dan adik-adik kehilangan ibu. Ibu kami, Sukarni Kastanto Hendrowiharso,telah tutup usia pada umur 60 tahun, di Rumah Sakit Umum Daerah, Giriwono, Kabupaten Wonogiri.

Semoga beliau, bersama bapak Kastanto Hendrowiharso yang terlebih dahulu meninggal dunia 9 Desember 1982 (54 tahun), kini tentram dan sejahtera disisiNya. Keduanya dimakamkan berdampingan di pemakaman umum Kajen, Giripurwo, Wonogiri.

Kami mengingatnya dengan doa.
Juga kenangan.

Termasuk, bagi saya pribadi, ketika saya masih duduk di Sekolah Dasar (1961-1967), beliau datang dari pasar dan membelikan buku komik untuk saya. Ketika saya menjadi mahasiswa, juga tidak jarang beliau menceritakan dan menceritakan lagi di tengah keluarga isi atau potongan lelucon saya masa lalu.

Lelucon itu telah saya tulis saat duduk di kelas 2A SMP Negeri 1 Wonogiri (1969). Lelucon tersebut kemudian dimuat di majalah Kartika Chandrakirana, majalah organisasi istri tentara TNI Angkatan Darat. Mendapat honor Rp. 200,00.

Di saat jam istirahat sekolah, saya meminjam sepeda milik teman saya Riyanto (dari SD 6, tinggal di Kerdukepik, dekat toko Metrojaya, seberang kantor Kehutanan) untuk mencapkan pengesahan di Kelurahan Giripurwo. Lalu ambil wesel di Kantorpos, di Ponten.

Lelucon itu, adalah bapak yang pertama kali menceritakannya. Saya hanya mengingatnya, kemudian menuliskannya. Tentang ucapan spontan seorang pengemis yang sembarangan ngomong sementara dirinya tidak tahu-menahu mengenai rank atau jenjang kepangkatan dalam tubuh militer.

Ceritanya, ketika ia memperoleh donasi dari seorang tentara berpangkat sersan, sang pengemis pun segera berterima kasih dan membalas dengan ucapan : "Saya doakan semoga Bapak segera bisa naik pangkat menjadi kopral."

We have beautiful mother. Tidak melupakan asal-usul dan menaruh hormat kepada leluhur, merupakan norma yang terpateri dalam sanubari warga Trah Martowirono. Ajaran tersebut juga disampaikan oleh bapak dan ibu yang diselipkan dalam tindakan berziarah ke makam para leluhur. Foto diambil sekitar tahun 1985 saat berziarah ke makam Eyang Kakung Martowirono dan pepunden lainnya di Pemakaman Umum Kedunggudel, Kenep, Sukoharjo.

Dari kiri : Bambang Haryanto (anak no 1), Mayor Haristanto (4), Betty Hermisnawaningsih (9), Barry Hendriatmo (3), Bastion Hersaptowiningsih (7), Bonny Hastutiyuniasih (8), almarhumah ibu tercinta Sukarni Kastanto Hendrowiharso, Basnendar Heriprilosadoso (10) dan Broto Happy Wonodominowo (6).

Virus humor keluarga. Dorongan dan tindakan sederhana seperti itu dari seorang ibu, rupanya mampu membekas menjadi ingatan indah dan bermakna dalam pada ingatan anak-anaknya. Mungkin itu sudah merupakan naluri dirinya dalam mewariskan DNA selera humor miliknya. Tidak hanya kepada diri saya semata, tetapi juga mampu meruyak ke balung sumsum, seluruh sepuluh anak-anaknya.

Hal itu bagi kami, adalah berkah. Maka tak ayal acara demi acara, reuni demi reuni dari Trah Martowirono, selalu saja menggejolakkan keinginan yang membara dari gerombolan Taler IV Kajen ini untuk menular-nularkan virus tawa kepada seluruh saudara-saudaranya tercinta.

Dalam catatan sejarah, tanggal 20 November memiliki cerita warna-warni. Tahun 1917, Ukraina mendeklarasikan sebagai republik. Tahun 1947 Putri Elizabeth, kini ratu Inggris, menikahi Letnan Philip Mountbatten di Westminster Abbey London. Hari peringatannya dilakukan dengan pengibaran bendera.

Microsoft Windows 1.0 diluncurkan tahun 1985. Di Jakarta, saya ikut menonton peluncurannya di Hotel Shangrilla. Kelahiran bintang film seksi bertubuh "10" Bo Derek di tahun 1956. Pada tahun 2006, sutradara film terkenal AS kelahiran 1925, Robert Altman, meninggal dunia. Hari Anak-Anak di Kanada, Mesir dan Pakistan. Juga internasional.

Aktivitas keluarga. Momen menjelang hari 20 November itu, Nuning punya kabar : saat njagong ke Slogohimo, tahu-tahu satu bis dengan Jeff "Paimin" Coctaz. Orang Perancis yang boso jowone mlipir dan suka glenyengan ini, tentu saja mengenal ibu dan bapak. Jeff juga menjadi saksi pernikahan Mas Untung dan mBak Erie.

Dari Bogor, Happy cerita. Karya jurnalistiknya saat meliput kejuaraan bulutangkis Milo untuk pelajar, telah memenangkan penghargaan di antara sesama tulisan para wartawan. Ia memperoleh hadiah sebuah netbook. Sementara hadiah benda serupa dari kejuaraan sebelumnya, kini menjadi peranti sekolah putrinya yang kelas enam, Gladys.

Semoga ia menang,menang dan menang terus, sehingga nanti akan ada hadiah netbook dalam kuis-kuis keluarga pada setiap trah kita mengadakan reuni.

Saya sendiri, sedang menantikan kelahiran "bayi" tercinta saya. Bukan bayi orok, tetapi terbitnya buku komedi saya. Buku yang ketiga. Judulnya, Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (Etera Imania, 2010). Insya Allah, meluncur dari percetakaan pada tanggal 22 November 2010. Tiga hari sesudahnya, sudah terpajang di toko-toko buku di Jakarta. Seminggu kemudian, sudah terdistribusikan ke seluruh Indonesia.

Petikan puisi dari Alice Walker dan catatan kenangan ini, juga rasa kerinduan yang mendesir-desir, semoga selalu mampu membuat ibu tercinta bisa tersenyum, sejahtera disisiNya.



Wonogiri, 19-20 November 2010